| Wednesday, November 11, 2009 |
| Cicak & Buaya |
Terpesona tulisan Goenawan Muhammad di Catatan Pinggir Majalah Tempo, berikut saya kutip tulisannya. Moga-moga tidak melanggar HAKI, karena belum sempat menyampaikan permohonan mengutip secara tertulis. Namun karena rasanya tulisan beliau ini, penting untuk diinformasikan kepada masyarakat, maka saya kutip disini, sesuai yang dimuat di Tempo Interaktif. ===================================================================
Catatan Pinggir Cicak & Buaya… dan metafor pun menang. Mungkin itu tak disadari ketika kata ”cicak” melawan ”buaya” dipakai pertama kalinya dalam pertentangan yang kini disebut sebagai konflik antara ”KPK” dan ”Polisi”. Saya yakin Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji tak memperhitungkan betapa ampuhnya perumpamaan yang dipakainya dalam majalah Tempo, 16 Juni 2009: ”Jika dibandingkan, ibaratnya, di sini buaya, di situ cicak. Cicak kok melawan buaya.…” Dari sana, muncullah dalam gambaran pikiran kita dua pelaku yang bertentangan—dan tak seimbang. Yang satu reptil kecil. Ia tak lebih dari 10 sentimeter panjangnya, hidup di celah-celah rumah kita, tak mengganggu, dengan suaranya yang berbisik. Ia bahkan menyenangkan: mangsanya nyamuk-nyamuk yang menggigiti jangat kita. Anak-anak menyanyikan lagu yang riang tentang dia, (”Cicak-cicak di dinding…”) dan pada umumnya ia tak membuat takjub siapa pun, kecuali orang dari Eropa yang tak pernah melihat ”kadal” kecil dari khatulistiwa itu. Yang seekor lagi reptil besar. Ia bisa sampai 8 meter panjangnya. Kulitnya kasar keras, moncongnya menakutkan, dan meskipun matanya seakan-akan tertidur, ia mendadak bisa menyerang. Kecuali ketika diternakkan atau dikurung di kebun binatang, habitatnya jarang didatangi manusia. Ia pembunuh. Mangsanya hewan lain, juga kita. Dalam bahasa Indonesia, ”buaya” umumnya sebuah metafor untuk sesuatu yang punya sifat tak baik: ”buaya darat”, misalnya. Ada memang kata ”buaya kroncong”, yang barangkali dipakai untuk mengesankan sifat penggemar yang amat doyan jenis musik itu—dan penggemar itu tak gampang puas. Maka memang aneh, kenapa justru seorang jenderal polisi mengumpamakan dirinya—mungkin juga korpsnya—dengan seekor reptil yang ganas. Besar kemungkinan ia hanya melihat dalam diri buaya faktor kekuatan yang handal. Atau mungkin juga kepintaran yang agresif. Dalam wawancara yang saya kutip tadi, Susno Duadji melihat pihak ”sana”, yakni KPK, sebagai cicak yang ”masih bodoh”. Pihaknya, si buaya, sebenarnya sudah berusaha ”memintarkan”, tapi sang cicak tak kunjung pandai. Si kecil itu telah diberi kekuasaan, kata Susno Duadji, tapi ”malah mencari sesuatu yang enggak dapat apa-apa”. Dari semua itu tampak, metafor Susno—seperti halnya metafor pada umumnya—tidak berperan sebagai ornamen. Memang ada yang menganggap sebuah metafor cuma sebingkai hiasan, karena selalu mengandung sesuatu yang penuh warna dan rupa (dengan kata lain: sesuatu yang tercerap pancaindra). Tapi orang yang menganggap bahasa metaforik hanyalah hiasan untuk memperindah sebuah gagasan sebenarnya tak tahu, bahwa bahasa tak dimulai dari ide. Bahasa bermula dari tubuh. Bahasa berpangkal dari proses indrawi. Itu sebabnya acap kali bunyi mendahului pemberian arti. Dan ini berlaku sejak kata seru seperti ”Wah!” sampai kata benda yang mengandung bunyi yang menimbulkan imaji dan asosiasi tertentu di dalam pikiran kita. Kata ”sulur”, misalnya, mengandung bunyi ”lur” yang kita dapatkan dalam ”julur”, ”salur”, ”balur”: sebuah bunyi yang menimbulkan imaji tentang sesuatu yang memanjang tapi tak meregang. Dari sesuatu yang konkret seperti itulah (bunyi dan imaji), dan bukan sesuatu yang rasional dan kognitif, metafor dilahirkan dan dipergunakan. Metafor memang mirip simbol. Baik metafor maupun simbol memakai sesuatu yang konkret untuk menyampaikan sebuah pengertian. Tapi antara keduanya ada beda yang fundamental. Simbol: kita menemukannya dalam pohon beringin yang dipilih untuk merumuskan cita-cita Partai Golkar; atau palu-arit untuk menghadirkan dasar kelas sosial dan ideologi PKI. Tapi bila simbol dipilih dengan rencana yang sadar, metafor lahir lebih spontan; ia lebih bergerak ke arah asosiasi ketimbang ke arah konsep. ”Pungguk merindukan bulan” adalah sebuah metafor, bukan simbol, sebab yang muncul dari kalimat itu adalah imaji seekor burung buruk muka yang hinggap di sebuah dahan ketika malam mengagumi purnama. Antara si pungguk dan rembulan itu ada kontras yang jelas—juga jarak yang tak akan terjangkau. Metafor itu lebih memantulkan situasi yang melankolis ketimbang mengikhtisarkan sebuah ide tentang cinta yang tak sampai. Juga ketika kata ”cicak” dan ”buaya” dengan spontan dipakai: saya kira yang berperan bukan sebuah konsep yang dipikirkan. Bahkan ada anasir dari bawah sadar yang bekerja. Dipakai dalam sebuah suasana konflik, kedua kata itu menyugestikan bahwa yang terjadi tak berbeda dari perseteruan di alam bebas, di mana penyelesaiannya bukanlah atas dasar hukum sebagai aturan bersama, melainkan ditentukan oleh kekuatan. Memang Susno Duadji tak melanjutkan cerita tentang cicak-lawan-buaya itu dengan cerita bentrokan. Ia mengatakan, sang buaya tak marah, ”cuma menyesal” karena menurut penilaiannya si cicak masih tetap saja bodoh. Namun dengan mengambil ibarat dari dunia hewan, kekerasan dan kebuasan jadi demikian tampak penting ketika sebuah pertentangan harus diputuskan. Mungkinkah itu yang sebenarnya tersimpan di kepala: bahwa konflik antarlembaga negara hanya selesai karena kekuatan fisik, bukan karena aturan yang sudah ada dan rasionalitas dalam manajemen pemerintahan? Ataukah metafor yang kini dipakai secara luas itu memang menunjukkan sebuah pengakuan bahwa ”hukum” selalu punya dimensi konflik politik? Bahwa pengertian ”keadilan” sesungguhnya ditentukan melalui sebuah persaingan hegemoni atas bahasa dan makna? Apa pun jawabnya, sebuah metafor telah menang. Ia bahkan lepas dari keinginan sang pemakai pemula. Ia ramai-ramai dipungut, mungkin karena imaji yang muncul dari dunia hewan itu mengasyikkan seperti sebuah fabel. Tapi bukankah dongeng yang kita sukai bisa bercerita tentang hasrat dan cemas kita yang tersembunyi? Goenawan Mohamad ============================================================= sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/11/09/CTP/mbm.20091109.CTP131907.id.html |
pemosting Talluroda @ 12:43 PM
 |
|
|
|
| Tuesday, December 23, 2008 |
| Asal Muasal Daerah Petojo |
Lagi blogwalking liat-liat situs sejarah .... eh ... ketemu blognya mas Mimbar Saputro. Berikut saya kutip cerita tentang asal muasal kampung Petojo di Jakarta, yang rupanya sangat dekat keterkaitannya dengan kita di Makassar. Lengkapnya bisa diliat di sini.
Sejarah Petojo
Tanah Pertojo Ilir ini milik seorang bangsawan Boegis bernama Aroe Patoedjoe. Letaknya sekitar kali Krukut, sebelah timur benteng Angke. Sejak 1663 Kompeni memang menempatkan orang Bugis di kawasan itu. Sejarah balik tanah itu memang memiliki cerita cukup panjang. Bermula dari perseteruan antara kerajaan Bone dengan Kerajaan Gowa/Tallo, sehingga Gubernemen Belanda perlu menurunkan “tangan malaikatnya, mendamaikan pihak yang bertikai agar tidak terjadi pertumpahan darah,” cuma di luar komando, diam-diam mereka menyediakan senjata kepada Aru Palaka sebagai tindakan represif terhadap Raja Gowa. Dengan bantuan persenjataan yang nggegirisi, maka dalam waktu singkat 1667 kerajaan Gowa/Tallo sudah bisa ditekuk lututnya. Dan ini udang dibalik Komisi Perdamaian sebab dengan jatuhnya kerajaan Gowa berarti keuntungan bagi Kompeni sebab selama ini politik monopoli dagang mereka selalu dihalang-halangi oleh Raja Gowa/Tallo. Setelah Aru Palaka meninggal dunia, sebagian anak buahnya ikut menjadi “repatriasi” ke Betawi. Mereka menjadi mesin perang di pelbagai peperangan seperti di Jampang, Siam (Thailand), Ceylon, Persia, Ternate, Ujung Timur Jawa dan Jawa Tengah. Salah satu panglima terkenalnya adalah Aru Patojoe, yang kemudian diberi tanah dan dipetakan dalam peta Betawi buatan abad ke-19 sebagai “Patojoe Land,” Sesuai dengan lidah Betawi maka lambat laun nama kawasan Patojoe berubah menjadi menjadi Petojo. ==================== source: http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/10/alap-alap-ayam-dari-petojo/#comment-952
|
pemosting Talluroda @ 1:20 PM
 |
|
|
|
| Tuesday, September 16, 2008 |
| Posting Blog Menggunakan BlogTK |
Sekarang kita coba sebuah Offline Blog Editor, yang jalan di Linux. Namanya BlogTK. Yang saya gunakan BlogTK versi 1.1. Dijalankan di atas platform Ubuntu 8.04. Kebetulan saya pake Ubuntu 8.04.1 Muslim Edition. Kalau dilihat informasi di menu Help>About, maka aplikasi ini sudah termasuk lawas. Tahun 2005. Namun mari kita coba hasil posting menggunakan aplikasi ini. Oh iya, sebelum saya lupa. Sebelum itu, kita harus memasukkan account blog dulu. Untuk para pengguna blogger.com, selain memasukkan username dan password, pelu sedikit tambahan di menu setting yaitu di field Server URL diisi dengan http://blogger.com/api/RPC2. Sesudah itu tekan tombol Save dan klik OK. Setting account blogger selesai.

Setelah itu, bila kita membuka aplikasi BlogTK dari Menu Applications>Internet>BlogTK maka akan tampil jendela editing, seperti berikut.
Untuk membuat posting baru, pilih menu File> New Setelah selesai, pilih menu File>Connect Klik (centang) tanda Publish Entry di bagian kanan bawah, lalu klik tombol Post Entry.
Tunggu hingga proses posting selesai, kemudian silahkan cek blog anda.
Selamat mencoba Offline Blog Editor yang satu ini. |
pemosting Talluroda @ 1:23 PM
 |
|
|
|
|
| Posting menggunakan ScribeFire |
Bila selama ini untuk memudahkan para blogger untuk mem-posting tulisan, maka digunakan aplikasi Offline Blog Editor. Ada beberapa jenis editor jenis ini. Ada yang jalan di platform Windows, Mac dan Linux. ScribeFire merupakan addon di browser Mozilla Firefox. Bagaimana hasilnya ? Mari lihat hasil postingan ini. Berikut info dari situsnya ScribeFire: ScribeFire Blog Editor ScribeFire, an extension of Firefox ®, enables users to easily drag and drop formatted text from the Web into their blog(s), post entries, take notes, and optimize their ad inventory, directly through the Firefox browser.
Getting started with the ScribeFire Blog Editor (If you haven't already installed ScribeFire, read these installation instructions.)
Once ScribeFire is installed you will be able to quickly and easily update your blog. Start by opening the Scribefire window in your browser
Click on the icon in the status bar:  When ScribeFire opens, an account wizard will appear to help you connect to your blog. Here is a list of the blogging services that are compatible with ScribeFire). Fill in the required information and submit. Your blog will immediately be listed in the right-hand pane of your browser:  With ScribeFire it’s easy to post to your blog, just enter text in the main editor panel of ScribeFire, give it a title...  ...and click the Publish button:  That's all there is to it! ScribeFire posts the entry to your blog immediately. Your blog title will also appear in the right sidebar enabling you to go back and edit or delete your post. 
Other Features Additionally ScribeFire allows you to: - Categorize and tag your blog posts
- Upload images
- Set timestamps
- Save works-in-progress as notes
- Post an entry as a draft
- Share your posts on social websites
- Upload files via FTP
|
pemosting Talluroda @ 1:02 PM
 |
|
|
|
| Monday, July 21, 2008 |
| Pidato Steve Jobs di Acara Wisuda Stanford University |
Pidato Steve Jobs di Acara Wisuda Stanford University
Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.
Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik
Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena "kecelakaan" dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang:"kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: "Tentu saja." Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.
Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan- habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukan-nya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai.
Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan sans serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah, dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan. Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.
Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan
Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami -Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama, semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.
Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya, saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali, saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.
Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.
Cerita Ketiga Saya: Kematian
Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar." Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: "Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?" Bila jawabannya selalu "tidak" dalam beberapa hari berturut- turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takhut malu atau gagal- tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian.Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu.Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani sken pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Paradokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang.
Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna: Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu. Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasilpemikiran orang lain. Jangan membiarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.
Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama "The Whole Earth Catalog", yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi "The Whole Earth Catalog", dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: "Stay Hungry. Stay Foolish." (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. Stay Hungry. Stay Foolish.
------------ --------- --------- --------- --------- --------- - Steven Paul Jobs III (born February 24, 1955) is the co-founder, Chairman, and CEO of Apple Inc. In the late '70s, Jobs, with Apple co-founder Steve Wozniak, made the easy and affordable personal computer become reality, years before the advent of IBM PC. In the early '80s, still at Apple, Jobs was among the first to see the commercial potential of the mouse-driven GUI (Graphical User Interface).[ 7] After losing a power struggle with the board of directors in 1985, Jobs resigned from Apple and founded NeXT, a computer platform development company specializing in the higher education and business markets. NeXT's subsequent 1997 buyout by Apple Inc. brought Jobs back to the company he co-founded, and he has served as its CEO from then on. Steve Jobs was listed as Fortune Magazine's Most Powerful Businessman of 2007.[8] =================================================================================== source: From: jul To: AlumniPrancis@yahoogroups.com Sent: Friday, May 09, 2008 3:27 PM Subject: [AlumniPrancis] Pidato Steve Jobs di Acara Wisuda Stanford University..... This is my favorite stock...AAPL ---------------- Di forward ke milis dikmenjur oleh Oppung (bag@indo.net.id) |
pemosting Talluroda @ 1:49 PM
 |
|
|
|
| Thursday, May 08, 2008 |
| Berhemat dengan OpenSource |
Sekedar hitung-hitungan sederhana. BBM akan naik lagi. Kehidupan mayoritas masyarakat yang sudah susah, akan semakin susah lagi. Belum lagi efek domino dari kenaikan BBM ini. Minyak tanah susah. Beras mahal. Bensin naik. Biaya transport menjulang. Semua biaya dan ongkos hidup naik. Pendapatan masyarakat, hampir tak bertambah. Subsidi untuk membantu masyarakat dianggap membebani cost pemerintah, namun banyak pos-pos biaya pemerintah yang sebenarnya tak penting, malah tidak di hemat.
Dari sisi IT, tengoklah berapa biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk belanja komputer? (Biasanya include dengan softwarenya. Bisa dipastikan softwarenya produk Microsoft).
Kalau pake OSS, berapa kira-kira penghematannya yah ? OS + Office + editor grafis = 875.000 + 800.000 + 8.500.000 = 10.175.000 (ini masih kira-kira) dikalikan berapa puluh juta unit komputer ? OSS (OS + Office + editor grafis) = 50.000 (ongkos duplikasi OS dan repositori)
Perunit komputer kita bisa menghemat 10.125.000 Jika dibelikan raskin 10.125.000/2000=5087,5 KG Jika satu keluarga perbulan habis 10 kg, maka bisa dibagikan secara gratis kepada 509 keluarga.
Tangkis mi itu ..... |
pemosting Talluroda @ 8:31 AM
 |
|
|
|
| Wednesday, May 07, 2008 |
| Ketika Tuhan mencipta Indonesia |
Anekdot ketika Tuhan mencipta Indonesia :
Malaikat bertanya : "Tuhan engkau ciptakan sebuah tempat indah di garis khatulistiwa, engkau isi tanahnya dengan minyak bumi, emas, tembaga, batu bara. engkau jadikan tanah begitu subur dan mudah ditanami .... apakah ini adil dan tidak ada satupun yg kurang".
Tuhan Menjawab : "Jangan gembira dulu .... tunggulah sampai kamu liat, birokrasi pemerintahaannya akan diisi orang-orang idiot"
Malaikat menangis dan berlalu...... |
pemosting Talluroda @ 3:05 PM
 |
|
|
|
| Thursday, April 24, 2008 |
| Musim Buah Liho |
Kalo ada yang tanya, di Makassar lagi musim apa ? Jawabannya gampang ji. Lagi musim buah. Buah apa ? Buah liho. Eh... buah apa itu ? yah ... sejenis pohon dari species pilkada, dan genus atribut. Masih sepupu sama buah poster dan sodaranya yang lain.
Kalo di Sulsel ? Sama ji. Kalo kita jalan-jalan ke arah selatan jazirah Sulawesi, maka mulai dari Kabupaten Je'ne'ponto, Bantaeng dan Sinjai ... semuanya sama. Lagi musim pilkada ... musim buah liho. Dimana-mana ada baliho, lengkap dengan foto kandidat dan jargon-jargonnya.
Pinggir-pinggir jalan jadi rame dengan atribut, poster dan baliho eh ... buah liho. Maklum, musim Pesta Demokrasi, Pesta Rakyat bedeng. Kita liatmi nanti siapa yang punya pesta dan siapa yang pesta..... Moga-moga ada blogger yang mau menulis tentang aneka warna dan kata yang digunakan sebagai jargon-jargon politik para calon walikota/bupati. Seri selanjutnya sudah menjelang. Pemilihan Anggota Legislatif, DPD dan Presiden di 2009. Paling tidak, bisnis cetak mencetak sedang panen saat ini. Ato ada yang mau bikin biro jasa pembuatan jargon ? Pasti laku ... |
pemosting Talluroda @ 12:04 PM
 |
|
|
|
|
| Navigasi |
|
| Postingan |
|
| Arsip |
|
|
| Kalender |
|
|
| Sejarah di Hari ini |
|
Sementara diisi dengan link ke informasi tokoh yang berulang tahun hari ini. Silahkan klik di
TODAY'S FAMOUS BIRTHDAYS |
| Papan Pesan |
Tulis pesannya di sini.
|
| Paraikatte |
|
| Image Hosted By |
|
| Designed-By |

|
| Credite |
|
| |
| |
| |
| |
| |
| |
|